jump to navigation

Asuhan Keperawatan Gastritis 13 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
trackback

https://indokeperawatan.wordpress.com

1.      Pengertian

a.       Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Brunner dan Sudarth, 2001)

b.      Gastritis adalah inflamasi (pembengkakan) dari mukosa lambung termasuk gastritis erosiva yang disebabkan oleh iritasi, refluks cairan kandung empedu dan pankreas haemorraphic gastritis, infectionus gastrititis dan atrafi mukosa lambung. (www.google.2007)

Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa grastitis adalah suatu peradangan dan mukosa lambung baik akut atau kronik yang menimbulkan gejala rasa sakit atau tidak enak didaerah epigastrium.

Gastritis dibagi menjadi 2, yaitu:

1.      Gastritis akut

Merupakan kelainan klinis akut yang jelas penyebabnya dengan tanda dan gejala yang khas, biasanya ditemukan sel inflamasi akut atau neotrofil.

2.      Gastritis kronik

Penyebabnya tidak jelas, sering bersfat multifaktur dengan perjalanan klinik yang bervariasi. Kelainan ini berkaitan erat dengan H. Pylori.

2.      Etiologi

a.       Gastritis akut disebabkan oleh:

1.      Obat-obatan, aspirin, obat anti inflamasi non steroid (AINS)

2.      Alkohol

3.      Gangguan Mikosirkulasi  mukosa lambung: trauma, luka bakar, sepsis. Secara mikroskopik terdapat lesi mukosa dengan lokasi yang berbeda. Jika ditemukan pada korpus dan fundus, biasanya disebabkan stress. Jika disebabkan oleh obat-obatan AINS terutama ditemukan didaerah antrum, namun dapat juga menyeluruh sedangkan secara mikroskopik terdapat erosi dengan regenerasi epitel dan ditemukan reaksi sel inflamasi neutrofil yang minimal.

b.      Gastritis kronis disebabkan oleh:

Ulkus benigna atau maligna  atau oleh bakteri helycobacterpylory (H. Pylory).

3.      Patofisiologi

a.       Gastitis Akut

Membran mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (kongesti dengan jaringan, cairan dan darah) dan mengalami erosi superfisial bagian ini mensekresi  sejumlah getah lambung, yang sangat sedikit asam tetapi banyak mucus. Ulserasi superfisial dapat terjadi dan dapat menimbulkan hemoragi. Mukosa lambung memperbaiki diri sendiri  setelah mengalami gastritis, kadang hemoragi memerlukan intervensi bedah.

b.      Gastritis Kronis

Dapat diklisifikasikan sebagai tipe A atau tipe B. Tipe A (sering disebut sebagai gastritis autoinum) diakibatkan dari perubahan sel parietal yang menimbukan atrofi dan infiltrasi seluler, hal ini jika dibandingkan dengan penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa dan terjadi pada fundus atau korpus dari lambung . Tipe B (kadan disebut sebagai gastritis H Pylory ) mempengarui antrum dan pylorus (ujung bawah lambung dekat duodenum) ini dihubungkan dengan bakteri H. Pylory. Faktor diet, seperti minum panas atau pedas, penggunaan obat-obatan, alkohol, merokok atau refluk isi usus ke dalam lambung.

1.      Tanda dan gejala

a.       Gastritis Akut

Memiliki tanda dan gejala:

Merasa tidak nyaman, syndrome dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, mentah, kembung, merupakan salah satu keluhan yang sering muncul. Ditemuka pula pendarahan saluran cerna hematemesis dan melena. Kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca pendarahan.

b.      Gastritis kronis

Memiliki tanda dan gejala:

Nyeri ulu hati, anoreksia, nausea dan pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai kelainan.

4.      Evaluasi Diagnostik

a.       Gastritis Akut

Tiga cara dalam menegakkan diagnosis, yaitu gambaran klinis, gambaran lesi mukosa akut di mukosa lambung  berupa erosi atau ulkus dangkal dengan tepi rata. Pada endoskopi saluran cerna bagian atas lebih sensitif dan spesifik untuk diagnosis kelainan akut lambung.

b.      Gastritis Kronis

Gastritis tipe A dihubungkan dengan Aklorhidria dan Hipoklorhidria (kadar asam hidroklohidria tidak ada atau rendah) sedangkan gastritis tipe B dihubungkan dengan Hiperklorhidria (kadar tinggi dari hodroklorhidria). Diagnosis dapat ditentukan dengan endoskopi, sedangkan pemeriksaan sinarX dan pemeriksaan histologis. Tindakan diagnosis untuk mendeteksi H.Pylory mencakup serologis untuk antibody terhadap antigen H. Pylory dan pernafasan.

5.      Komplikasi

a.       Gastritis akut

Pendarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) berupa hematemesis dan melena, dapat berakhir dengan shock hemoragik. Khususnya untuk pendarahan SCBA, perlu dibedakan dengan tukak peptic. Gambaran klinis yang diperlihatkan hampir sama namun pada tukak peptic.

Penyebab utamanya adalah infeksi H. Pylory sebesar 100% pada tukak duodenum dan 60-90% pada tukak lambung.

b.      Gastritis Kronis

Pendarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, perforasi dan anemia karena gangguan absorbsi Vitamin B12.

6.      Penatalaksanaan

a.       Gastritis akut dapat diatasi dengan menghilangkan etiologinya. Diet lambung dengan porsi kecil dan sering. Apabila gejala menetap cairan perlu diberikan secara parenteral. Bila pendaraan terjadi maka penatalaksanaannya adalah serupa dengan prosedur yang dilakukan untuk hemoragi saluran gastrointestinal. Bila gastritis diakibatkan oelh mencerna makanan yang terlalu asam atau alkali. Pengobatan terdiri dari pengenceran dan penetralan agen penyebab.

Ø Untuk menetralisasi asam

Digunakan antasida umum (misalnya alumunium hidrosida). Untuk menetralisasi alkali digunakan intravena bahan yang cukup encer.

Ø Bila korasi lurus atau berat karena berbagai terapi pendukung mencakup intubasi analgesik dan sedatif, antasida serta cairan intravena endoskopi, fiberoptik, mungkin diperlukan untuk mengangkat gangren atau jaringan perforasi. Gastrojejunostomi atau sekresi lambung mungkin diperlukan untuk mengatasi obstruksi pylorus.

b.      2. Gastritis Kronis diatasi dengan modifikasi diet pasien, meningkatkan istirahat, mengurangi stress, mengurangi stress dan memulai farmakoterapi. H. pylory dapat diatrasi dengan anibiotik (seperti tetrasiklin atau amoksilin) dan garam bismuth (pepto-bismol). Pasien dengan gastritis tipe A biasanya mengalami malabsorbsi vitamin B12 yang disebabkan dengan adanya antibody terhadap faktor intrinsik.

B. Nursing Care Plan

1.      Pengkajian

Pengumpulan dara subyektif dan obyektif sebelum melakukan tindakan keperawatan.

a.       Pengkajian pola kesehatan fungsional

1.      Riwayat pola persepsi  kesehatan dan manajemen kesehatan.

Pengetahuan tentang penyakit dan pemeliharaan kesehatan selama ini.

2.      Pola pemenuhan nutrisi metabolik

ü  Program diet RS

ü  Intake makanan dan cairan

3.      Pola Eliminasi

ü  Buang air besar

ü  Buang air kecil

ü  Karakteristik feses dan urine

4.      Pola aktivitas dan latihan

ü  Bernafas (pernafasan klien)

ü  Sirkulasi  (Mekanisme Kardio Pulmoner)

ü  Aktivitas / Mobilitas

ADL = makan, berpakaian, mandi, mobilitas umum, berhias, eliminasi, memasak.

5.      Pola tidur dan istirahat

Lama tidur, gangguan tidur, pengawasan saat bangun

6.      Pola Persepsi kognitif

ü  Pandangan klien tentang sakitnya

ü  Kecemasan

ü  Konsep diri

7.      Pola persepsi Konsep Diri

ü  Pandangan klien tentang sakitnya, kecemasan, konsep diri

8.      Pola peran dan hubungan

ü  Komunikasi hubungan dengan orang lain, kemampuan keuangan

9.      Pola Seksualitas dan Reproduksi

ü  Fertilisasi, libido, menstruasi, kontrasepsi

10.  Pola Koping dan Toleransi Stress

ü  Perubahan/kemampuan klien dalam bertahan terhadap situasi sepanjang hidupnya

11.  Pola nilai dalam kepercayaan

ü  Pandangan klien tentang agama dan kegiatan keagamaan.

2.      Diagnosa Keperawatan

A.        Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh

v  Definisi =  Ketidakcukupan masukan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.

v  Batasan karakteristik:

  • BB 20% atau lebih dibawah ideal
  • Kelemahan otot yang dibutuhkan untuk menelan atau mengunyah
  • Cepat kenyang setelah mencerna makanan
  • Laporan masukan makanan kurang dari target harian yang dianjurkan
  • Konjungtiva dan membran mukosa pucat
  • Misconception
  • Kehilangan berat badan dengan adanya masukan makanan adekuat
  • Keengganan untuk makan.
  • Kram perut
  • Kesehatan otot menurun
  • Nyeri perut dengan atau tanpa patologi
  • Kurang ketertarikan makanan
  • Diare
  • Kehilangan rambut terlalu banyak
  • Suara isi perut hiperaktif
  • Misinformasi / kurang informasi

v  Faktor yang berhubungan

Ketidakmampuan dalam mengunyah, mencerna makanan dan mengabsorbsi nutrien yang seharusnya karena faktor biologi, psikologi atau ekonomi.

v  Tujuan

Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi setelah dilakukan perawatan selama… hari

v  Kriteria hasil

Status nutrisi = intake nutrisi.

Indikator 1 2 3 4 5
o   Masukan kalorio   Masukan protein

o   Masukan lemak

o   Masukan vitamin

o   Masukan mineral

o   Masukan kalsium

Keterangan  :

    1. Tidak adekuat
    2. Agak adekuat
    3. Sedang
    4. Hampir adekuat
    5. Sangat adekuat

v  Intervensi

1.      Manajemen nutrisi

a.       Berikan pengganti gula

b.      Anjurkan peningkatan kalori, mineral, protein dan vitamin C

c.       Anjurkan penyediaan kalori yang tinggi untuk tubuh

d.      Kolaborasi dengan ahli gizi

2.      Terapi Nutrisi

a.       Anjurkan peningkatan makanan yang tinggi kalsium

b.      Monitor masukan makanan dan cairan

c.       Anjurkan peningkatan makanan dan cairan yang tinggi potassium

d.      Anjurkan membersihkan mulut sebelum makan

e.       Anjurkan pasien dan keluarga tentang diet yang ditentukan

B.        Resiko Kekurangan Volume Cairan

Ø  Definisi : resiko mengalami dehidrasi vaskuler, seluler dan intrasel

Ø  Faktor resiko:

–          Faktor yang mempengaruhi kebutuhan cairan (status hipermetabolik)

–          Pengobatan duretiks)

–          Kehilangan cairan melalui jalur abnormal

–          Kurangnya pengetahuan tentang volume cairan

–          Banyaknya kehilangan cairan melalui jalur normal (diare, muntah-muntah)

–          Usia lanjut

Ø  Tujuan

Cairan intrasel dan ekstrasel dalam tubuh klien simbang setelah perawatan selama….. hari.

Ø  Kriteria hasil

Keseimbangan cairan

indkator 1 2 3 4 5
‘       TD IER‘       Tekanan

‘       Arteri rata-rata IER

‘       Tekanan vena sentral IER

‘       Keseimbangan intake dan output dalam 24 jam tidak ada tambahan suara nafas

‘       Berat badan stabil

‘       Tidak ada edema peripenal

‘       Tidak terjadi kebingungan

‘       Tidak terjadi haus yang abnormal

‘       Hidrasi kulit

‘       Membran mucus bawah

‘       Elektrolit serum dalam batas normal

‘       Hematokrit dalam batas normal

Keterangan :

1.      Sangat dikompromi

2.      Sering dikompromi

3.      Kadang dikompromi

4.      Jarang dikompromi

5.      Tidak dapat dikompromi

Ø  IER =  dalam tingkat/ nilai yang diharapkan

Ø  Intervensi

a.     Manajemen elektrolit

‘       Monitor elektrolit serum abnormal

‘       Monitor manifestasi keseimbangan cairan

‘       Berikan cairan

‘       Pertahankan keakuratan intake dan output

‘       Berikan elektrolit tambahan (oral, NET,IV) sesuai resep

‘       Irigasi NGT dengan normal saline

‘       Ajarkan pasien dan keluarga tentang tipe, penyebab, treatment dalam keseimbangan cairan.

b.     Manajemen cairan

‘       Plamot gejala

‘       Plamot vital

‘       Naikan masukan lewat oral

c.     Terapi intervena

‘       Berikan cairan IV temperatur ruang

‘       Monitor kelebihan cairan dan reaksi fisik

‘       Gatal intake dan output

C.        Nyeri Akut

Ø  Definisi: mengalami sensasi dan emosi yang tidak menyenangkan yan timbul dari kerusakan jaringan aktual/ potensial/ digambarkan dalam istilah seperti kerusakan (intestional association for the study of pain). Serangannnya tiba-tiba atau perlahan dalam intensitas yang banyak dari lembut/ hebat dengan/ tanpa didahului/ diakhiri tanda-tanda dan durasinya kurang dari 6 bulan.

Ø  Batasan karakterisitik

–          laporan verbal

–          tanda-tanda terlihat

–          posisi nyaman untuk mengurangi nyeri

–          tingkah laku melindungi

–          sikap-sikap melindungi

–          raut muka

–          perubahan dalam nafsu makan dan makan

–          gangguan tidur

–          fokus dini

–          tindakan distraksi

–          respon otonom (diaporesis; perubahan TD, N, R; dilatasi pupil)

–          focus terbatas

–          kelakuan expressive (kelelahan, menangis, merintih)

Ø  Faktor yang berhubungan

Agen injuri (biologi, fisik, kimia, psikologi)

Ø  Tujuan

Klien mampu mengontrol nyeri setelah perawatan selama…. Hari.

Ø  Kriteria hasil

Mengontrol nyeri

Manajemen lingkungan = nyaman

–          Sediakan tempat tidur yang bersih dan nyaman

–          Atur suhu ruangan agar individu lebih nyaman jika memungkinkan

–          Batasi pengunjung

–          Fasilitasi pasien untuk mendapatkan posisi nyaman

Indikator 1 2 3 4 5
§  Kenali faktor penyebab nyeri§  Mengurangi durasi nyeri

§  Menggunakan pengukuran preventif

§  Menggunakan analgesik yang sesuai

§  Menggunakan pengukuran keringanan non analgesik

§  Mengenali gejal-gejala nyeri

§  Melaporkan dapat mengontrol nyeri

Keterangan :

1.      Tidak pernah didemonstrasikan

2.      Jarang didemonstrasikan

3.      Kadang didemonstrasikan

4.      Sering didemonstrasikan

5.      Selalu didemonstrasikan

Ø  Intervensi

a.     Manajemen nyeri

ü  Observasi ketidaknyamanan isyarat non verbal, khususnya saat tidak dapat berkomunikasi dengan efektif

ü  Kontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi ketidaknyamanan respon pasien (suhu, ruangan dan kegaduhan)

ü  -Ajarkan pasien untuk memonitor nyerinya dan untuk mengurangi secara tepat

ü  -Ajarkan menggunakan teknik non farmakologikal (tanpa obat), seperti : biofeedback, relaksasi, massage). Sebelum, setelah dan jika mungkin selama nyeri

ü  Kolaborasi dengan pasien dan professional kesehatan lainnya untuk memilih dan melakukan pengurangan nyeri secara non farmakologikal

ü  Pastikan pretreatment analgesik dan strategi non farmatologi sebelum nyeri

ü  Ajarkan pasien membicarakan nyeri yang dialami

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2, Jakarta : EGC. 2002.

Johnson Marion, Maas Merydeon, Moorhead Sue. Nursing out Comes Classification (NOC), Mosby, inc. 2002.

Mansyoer Arief, Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta, Media Rescillapius. 1999.

Shella Sparks Ralph, Martha Craft – Rosenberg, Leam Scroggins, Barbara Vassalo, Judith Warren, , Nursing Diagnoses, Definitions, Definitions Dan Classification (NANDA). Philadelphia. 2005-2006.

Mc Closkey, G. Joanne dan bulechek M. Gloria, Nursing Interventions Classifications (NIC) Mosby – Yearbook. Inc. 1996.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: