jump to navigation

Neprolitiasis 13 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Medikal Bedah.
trackback

https://indokeperawatan.wordpress.com/

A.    Definisi

Menurut Sjamsuhidrajat R, IW (2004) neprolitiasis adalah batu di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis). Sedangkan menurut Purnomo BB (2003) nefrolitiasis suatu penyakit yang salah satunya gejalanya adalah pembentukan batu dalam ginjal.

B.     Etiologi

Menurut Suyono, S., et.al (2001) menyebutkan beberapa penyebab nefrolitiasis adalah

1.      Terbentuknya batu bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu

2.      Air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang normal. Sekitar 80% batu terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral struvit.

3.      Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium dan fosfat) juga disebut batu infeksi karena batu ini hanya terbentuk di dalam air kemih yang terinfeksi.

Smeltzer, S., et.al.ed (2000), ukuran batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 sentimeter atau lebih. Batu yang besar disebut kalkulus staghorn. Batu ini bisa mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis.

Darlan (1999) menyebutkan beberapa faktor yang mempermudah terbentuknya batu pada saluran kemih pada seseorang. Faktor tersebut adalah faktor intrinsik yaitu keadaan yang berasal dari tubuh orang itu sendiri dan faktor ekstrinsik yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan di sekitarnya.

  1. Faktor intrinsik antara lain :

a)      Herediter (keturunan) : penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.

b)      Umur : penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun

c)      Jenis kelamin : jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan.

  1. Faktor ekstrinsik antara lain :

a.       Geografis : pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stonebelt.

b.      Iklim dan temperatur

c.       Asupan air : kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi/.

d.      Diet : diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu

e.       Pekerjaan : penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas atau sedentary life.

C.     Patofisiologi

Batu ginjal selalu berkaitan dengan penurunan progresif GFR stadium. Batu ginjal didasarkan pada tingkat GFR (Glomarular Filtration Rate) yang tersisa dan mencakup :

1.      Penurunan fungsi ginjal dan cadangan ginjal

Yang terjadi bila GFR turun 50% dari normal (penurunan fungsi ginjal), tetapi tidak ada akumulasi sisa metabolik. Nefron yang sehat mengkonpensasi nefron yang sudah rusak dan penurunan kemampuan mengkonsentrasi urine, menyebkan nocturia dan poliuri. Pemeriksaan CCT 24 jam diperlukan untuk mendeteksi penurunan fungsi ginjal.

2.      Trisufisiensi ginjal

Terjadi apabila GFR turun menjadi 20-35% dari normal. Nefron-nefron yang tersisa sangat rentan mengalami kerusakan sendiri karena beratnya beban yang diterima. Mulai terjadi akumulasi sisa metabolik dalam darah karena nefron yang sehat tidak mampu lagi mengkompensasi. Penurunan respon terhadap diuretic menyebabkan oligurasi edema. Derajat insufisiensi dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat, tergantung dari GFR, sehingga perlu pengobatan medis. (Corwin, 2001)

D.    Gambaran Klinis

Menurut Smeltzer (2000) menjelaskan beberapa gambaran klinis nefrolitiasis :

1.      Batu, terutama yang kecil (ureter), bisa tidak menimbulkan gejala.

2.      Batu di dalam kandung kemih bisa menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Batu yang menyumbat ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis bisa menyebabkan nyeri punggung atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat). Kolik renalis ditandai dengan nyeri hebat yang hilang-timbul, biasanya di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang, yang menjalar ke perut, daerah kemaluan dan paha sebelah dalam.

3.      Gejala lainnya adalah mual dan muntah, perut menggelembung, demam, menggigil dan darah di dalam air kemih. Penderita mungkin menjadi sering berkemih, terutama ketika batu melewati ureter.

Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal. (Corwin, 2001)

Menurut Purnomo BB (2003), batu ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Umumnya gejala berupa obstruksi aliran kemih dan infeksi. Gejala dan tanda yang dapat ditemukan pada penderita batu ginjal antara lain :

  1. Tidak ada gejala atau tanda
  2. Nyeri pinggang
  3. Hematuria makroskopik atau mikroskopik
  4. Pielonefritis dan/ atau sistitis
  5. Pernah mengeluarkan batu kecil ketika kencing
  6. Nyeri tekan kostovetebral
  7. Batu tampak pada pemeriksaan pencitraan
  8. Gangguan faal ginjal

E.     Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang untuk penyakit nefrolitiasis terdiri dari :

1.      Radiologi

Secara radiologi, batu dapat radiopak atau radiolusen. Sifat radiopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu ginjal sehingga dari sifat ini dapat diduga batu dari jenis apa yang ditemukan.

2.      Ultrasonografi (USG) dilakukan pada pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan.

3.      IVP, yaitu pada keadaan-keadaan alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun dan pada wanita yang sedang hamil.

4.      Batu yang tidak menimbulkan gejala, mungkin akan diketahui secara tidak sengaja pada pemeriksaan analisa air kemih rutin (urinalisis).

5.      Analisa air kemih mikroskopik bisa menunjukkan adanya darah, nanah atau kristal batu yang kecil. Biasanya tidak perlu dilakukan pemeriksaan lainnya, kecuali jika nyeri menetap lebih dari beberapa jam atau diagnosisnya belum pasti.

6.      Pemeriksaan tambahan yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah pengumpulan air kemih 24 jam

7.      Pengambilan contoh darah untuk menilai kadar kalsium, sistin, asam urat dan bahan lainnya yang bisa menyebabkan terjadinya batu.

8.      Rontgen perut bisa menunjukkan adanya batu kalsium dan batu struvit.
Pemeriksaan lainnya yang mungkin perlu dilakukan adalah urografi intravena dan urografi retrograd.

F.      Penatalaksanaan

Sjamsuhidrajat (2004) menjelaskan penatalaksanaan pada nefrolitiasis terdiri dari :

1.      Obat diuretik thiazid(misalnya trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan batu yang baru.

2.      Dianjurkan untuk minum banyak air putih (8-10 gelas/hari).

3.      Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium selulosa fosfat.

4.      Untuk meningkatkan kadar sitrat (zat penghambat pembentukan batu kalsium) di dalam air kemih, diberikan kalium sitrat.

5.      Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih, yang menyokong terbentuknya batu kalsium, merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat (misalnya bayam, coklat, kacang-kacangan, merica dan teh). Oleh karena itu sebaiknya asupan makanan tersebut dikurangi.

6.      Kadang batu kalsium terbentuk akibat penyakit lain, seperti hiperparatiroidisme, sarkoidosis, keracunan vitamin D, asidosis tubulus renalis atau kanker. Pada kasus ini sebaiknya dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut. Batu asam urat.

7.      Dianjurkan untuk mengurangi asupan daging, ikan dan unggas, karena makanan tersebut menyebabkan meningkatnya kadar asam urat di dalam air kemih.

8.      Untuk mengurangi pembentukan asam urat bisa diberikan allopurinol.

9.      Batu asam urat terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan suasana air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan kalium sitrat.

10.  Dianjurkan untuk banyak minum air putih.

Sedangkan menurut Purnomo BB (2003), penatalaksanaan nefrolitiasi adalah :

1.      Terapi Medis dan Simtomatik

Terapi medis berusaha untuk mengeluarkan batu atau melarutkan batu. Tetapi simtomatik berusaha untuk menghilangkan nyeri. Selain itu dapat diberikan minum yang berlebihan/ banyak dan pemberian diuretik.

2.      Litotripsi

Pada batu ginjal, litotripsi dilakukan dengan bantuan nefroskopi perkutan untuk membawa tranduser melalui sonde ke batu yang ada di ginjal. Cara ini disebut nefrolitotripsi. Salah satu alternatif tindakan yang paling sering dilakukan adaah ESWL. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) yang adalah tindakan memecahkan batu ginjal dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut.

3.      Tindakan bedah

Tindakan bedah dilakukan jika tidak tersedia alat litotripsor tindakan bedah lain adalah niprolithomy adalah pengangkatan batu ginjal dengan adanya sayatan di abdomen dan pemasangan alat, alat gelombang kejut, atau bila cara non bedah tidak berhasil.

1.      Pengkajian

2.      Diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus Niprolitrotomy

a.       Nyeri akut yang berhubungan dengan jaringan terhadap tindakan pembedahan

b.      Resiko infeksi yang berhubungan dengan tempat masuknya mikroorganisme sekunder terhadap bedah.

c.       Kurang perawatan diri mandi yang berhubungan dengan nyeri

d.      Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik

3.      Fokus intervensi

a.       Nyeri akut yang berhubungan dengan trauma jaringan terhadap tindakan pembedakan

1)      Tujuan: Klien mampu melaporkan level nyeri berkurang secara bertahap setelah dilakukan tindakan.

2)      Kriteria hasil

Indikator 1 2 3 4 5
Melaporkan nyeri
Frekuensi nyeri
Mengatakan nyeri
Ekspresi wajah terhadap nyero
Otot tegang
Perubahan RR
Perubahan TD
Protective body position

Ket :  1. Hebat

2. Kuat

3. Sedang

4. Ringan

5. Tidak ada

3)      Intervensi

Manajemen nyeri

a)      Laksanakan pemberian analgetik

b)      Manajemen lingkungan nyaman

c)      Manajemen nyeri

d)     Berikan posisi nyaman

e)      Monitor tanda-tanda vital

b.      Resiko infeksi yang berhubungan dengan tempat masuknya mikroorganisme sekunder terhadap tindakan pembedahan.

1)      Tujuan : Klien mampu mendapatkan status imun adekuat selama dilakukan tindakan keperawatan

2)      Kriteria hasil

Indikator 1 2 3 4 5
Tidak tahu resiko
Monitor faktor resiko lingkungan
Monitor perilaku dan faktor resiko personal
Peningkatan strategi efektivitas untuk kontrol resiko
Monitor daerah jahitan dari tanda-tanda infeksi
Tanda-tanda vital dalam batas normal
Penggunaan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan
Mencegah pemajanan terhadap sesuatu yng mengancam kesehatan

Ket :  1. Tidak pernah dilakukan

2. Jarang dilakukan

3. Kadang-kadang dilakukan

4. Sering dilakukan

5. Selalu dilakukan

3)      Intervensi

a)      Manajemen lingkungan

b)      Kontrol infeksi

c)      Lakukan medikasi

d)     Perawatan kulit

e)      Proteksi infeksi

1)      Monitor tanda-tanda infeksi

2)      Pertahankan teknik afektif

3)      Ajarkan pasien untuk menghindari infeksi

f)       Laksanakan pemberian antibiotik sesuai advice dokter

c.       Kurang perawatan diri mandi yang berhubungan dengan nyeri

1)      Tujuan : Klien mampu melakukan perawatan diri mandi secara mandiri setelah dilakukan tindakan keperawatan p

2)      Kriteria hasil

Indikator 1 2 3 4 5
Masuk dan pergi ke kamar mandi
Membasahi tubuh
Menggosok tubuh
Mandi secara mandiri

Ket :    1. Tergantung

2. Memerlukan bantuan orang lain

3. Memerlukan pengawasan

4. Mandiri dengan menggunakan alat

5. Mandiri

3)      Intervensi

a)      Bantu klien saat mandi

b)      Bantu klien membersihkan perineal

c)      Monitor kondisi kulit saat mandi

d)     Membasuh tangan setelah toeliting dan sebelum makan

e)      Bantu klien menggunakan deodorant/ parvum

d.      Intoleransi aktivitas

Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik.

1)      Tujuan : Klien mampu merespon tubuh sesuai dengan kebutuhan energi dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

2)      Kriteria hasil

Indikator 1 2 3 4 5
HR DBN saat dan setelah aktivitas
RR DBN saat dan setelah aktifitas
Diastolik DBN setelah aktivitas
Sistolik DBN setelah aktivitas
Kekuatan
Kemampuan melakukan ADL
Kemampuan berbicara selama latihan

Ket :  1. Sering tidak sesuai

2. Sering tidak sesuai

3. Keadaan tidak sesuai

4. Jarang tidak sesuai

5. Sesuai

3)      Intervensi

Manajemen nyeri :

a)      Identifikasi keterbasan fisik pasien

b)      Identifikasi persepsi klien atau keluarga tentang penyebab kelelahan

c)      Dorong klien untuk mampu mengungkapkan keterbatasan fisiknya

d)     Identifikasi penyebab kelelahan misal karena program perawatan, nyeri atau pengobatan.

e)      Identifikasi apa dan berapa banyak aktivitas yang masih bisa dilakukan oleh klien.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: