jump to navigation

EFUSI PLEURA 14 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
trackback

A. Pengertian

1.      Efusi pleura adalah penumpukan cairan rongga pleura (seymour I Schwartz, 2000).

2.      Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleural (Arif Mansjoer, ed. 1999).

3.      Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. (Suzanne C Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2002).

B. Etiologi

Menurut selbacher, dkk (2000) etiologi efusi pleura yaitu sebagai berikut: cairan pleura berakumulasi jika pembentukan cairan pleura melebihi absorpsi cairan pleura. Normalnya, cairan memasuki rongga pleura dari kapiler dalam pleura panetalis dan diangkut melalui jaringan limfatik yang terletak dalam pleura parietalis. Cairan juga dapat memasuki rongga pleura dari ruang interstisium paru melalui pleura viseralis atau dari kavum peritoneum melalui lubang kecil yang ada pada diafragma. Saluran limfe memiliki kapasitas dalam keadaan normalnya. Oleh karenanya, efusi pleura dapat terbentuk jika ada pembentukan cairan pleura yang berlebihan (dari pleura parietalis, ruang interstisium paru, atau kavum peritoneum) atau jika ada penurunan pengangkutan cairan oleh melalui limfatik, cairan normal pleura 15-20 cc.

Menurut Arif Mansjoer, ed (1999) etiologi dari efusi pleura adalah sebagai berikut:

  1. Neoplasma seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik.
  2. Kardiovaskular seperti gagal jantung kongesti, embolus pulmonar, dan perikarditis.
  3. Penyakit pada abdomen seperti pankreatitis, asites, dan abses.
  4. Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial dan parasit.
  5. Lain-lain seperti lupus eritematosus sistemik, rheumatoid artritis, sindrom nefrotik dan uremia.

C. Klasifikasi efusi pleura berdasarkan cairan yang terbentuk (Suzanue C Smeltezer dan Brenda G. Bare, 2002).

1.      Transudat

Merupakan filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh, terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan reabsorbsi cairan pleura terganggu yaitu karena ketidakseimbangan tekanan hidrostaltik atau ankotik. Transudasi menandakan kondisi seperti asites, perikarditis. Penyakit gagal jantung kongestik atau gagal ginjal sehingga terjadi penumpukan cairan.

2.      Eksudat

Ekstravasasi cairan ke dalam jaringan atau kavitas. Sebagai akibat inflamasi oleh produk bakteri atau humor yang mengenai pleura contohnya TBC, trauma dada, infeksi virus. Efusi pleura mungkin merupakan komplikasi gagal jantung kongestif. TBC, pneumonia, infeksi paru, sindroma nefrotik, karsinoma bronkogenik, serosis hepatis, embolisme paru, infeksi parasitik.

D. Patofisiologi

Perubahan pergerakan cairan ke dalam dan keluar rongga pleura disebabkan adanya ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan tekanan koloid osmotic dalam permukaan kapiler dan pleura.

Perbedaan antara eksudat dan transudat didasarkan pada isi proteinnya trasudat (hidrotoraks) diproduksi ketika cairan yang bebas protein mengalir dalam rongga pleura menjadi terganggu. Cairan tampak jerniah atau kuning pucat. Berat jenis 1,015 atau kurang dengan kandungan protein normal kurang dari 3 gr/dl, hitung jenis sel darah. Peningkatan tekanan kapiler pada gagal jantung dan pengurangan tekanan onkotik plasma dalam ginjal atau penyakit hepar telah diketahui menyebabkan cairan transudat.

E. Tanda dan Gejala

1.      Deviasi trakea menjauhi sisi yang terkena

2.      Terdorongnya mediastinum pada sisi yang berlawanan dengan cairan.

3.      Pekak pada perkusi.

4.      Penurunan bunyi pernapasan sisi yang terkena pada auskultasi

5.      Nafar pendek atau sesak nafas.

6.      Nyeri dada pleuritik (perasaan tumpul di dalam dada)

7.      Bising jantung pada payah jantung.

8.      Lemas yang progresif, berat badan menurun.

9.      Batuk kadang berdarah pada perokok (Karsinoma bronchus)

10.  Demam subfebril (pada tuberkulosis)

11.  Anxietas (pada sirosis hati)

F. Diagnosa Penunjang

1.      Pemeriksaan laboratorium (analisis cairan efusi yang di thorakosentesis)

2.      Pemeriksaan radiology

Foto toraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat permukaan yang melengkung jika jumlah ciran efusi lebih dari 300 ml, pergeseran mediastinum kadang ditemukan.

3.      CT scan dada akan terlihat adnaya perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya.

4.      Ultra sono grafi pada pleura dapat menentukan adnaya cairan rongga pleura.

5.      Bronkoskopi pada kasus-kasus neoplasma, korpus aleunum dan abses paru.

6.      Thorakoskopi (tiber optic pleura) pada kasus dengan neoplasma tuberculosis pleura.

7.      Biopsi pleura.

G. Penatalaksanaan

1.      Drainase cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subjek, nyeri, dipsnea, dll. Cairan efusi sebanyak 1-1,5 liter dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatkan edema. Jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan berikut dilakukan 1 jam kemudian.

2.      Antibiotik jika terdapat emprema.

3.      Pleurodesis yaitu melengketkan pleura viseralis dan pleura parietalis untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi (pada efusi pleura maligna).

4.      Opreatif, bila cairan pus kental sehingga sulit keluar atau empiemanya multilokulara.

5.      Tirah baring.

H. Komplikasi

1.      Pneumonia

2.      Fibrosis paru

3.      Pneumotorak

4.      Emfisema

5.      Arelektasis

I. Pengkajian Pola Kesehatan Fungsional

1.      Pola aktivitas dan latihan

a.       Anamnesis adanya dysnea, lemas, atau kelelahan

b.      Pada daerah efusi fremitus tidak ada, perkusi redup, suara napas berkurang.

c.       Ekspansi dada asimetris.

d.      Nafas pendek atau sesak nafas.

e.       Tachipnea

f.       Ibising jantung pada payah jantung.

g.      Penumpukan kembali cairan setelah tindakan thorakosintesis kaji tanda distress pernapasan.

h.      Respon kardiovaskuler setelah thorakosintesis, hipotensi, tachicarchi, aritmia, pingsan, kulit berkeringat dan pucat.

i.        Infeksi bronkhopulmonary: suhu, sputum untuk kultur dan sensitivitas.

2.      Pola tidur dan istirahat

a.       Kebiasaan tidur

b.      Kondisi tidur

c.       Waktu mulai tidur

d.      Kualitas tidur

e.       Gangguan saat tidur

f.       Kebiasaan pengantar tidur

3.      POla persepsi kognitif

a.       Adanya keluhan nyeri dada

b.      Persepsi nyeri, PQRST nyeri

c.       Skala intensitas tingkat nyeri.

J. Nursing Care Plan

1.      Pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru (Penumpukan cairan).

Tujuan:

a.       Klien mampu mencapai status respirasi normal dengan jalan nafas bersih.

Indikator 1 2 3 4 5
–      Kemudian bernapas

–      Syspnea setelah latihan baik dan teratur

–      Naik turunnya dada teratur

–      Tidak cemas

–      Tidak lemas

–      Pola napas bebas

–      RR normal

Keterangan:

1 : Sangat tidak sesuai

2 : Jarang sesuai

3 : Kadang sesuai

4 : Sering sesuai

5 : Selalu sesuai

b.      Klien mampu mencapai status tanda-tanda vital yang normal.

Indikator 1 2 3 4 5
–      Suhu

–      Nadi perifer

–      Nadi sentral

–      RR

–      Diastolik

–      Sistolik

Keterangan:

1 : Paling menyimpang dari normal

2 : Banyak menyimpang dari normal

3 : Sedang menyimpang dari normal

4 : Ringan menyimpang dari normal

5 : Tidak menyimpang dari normal

Intervensi:

–          Observasi RR, pola nafas, kedalaman pernapasan dan usaha nafas.

–          Observasi hasil rongten dada

–          Berikan numidifikasi udara/oksigen jika tepat.

–          Posisikan pasien pada posisi yang nyaman untuk memaksimalkan kemampuan bernapas.

–          Ajarkan pada pasien untuk bernapas perlahan-lahan dan teratur.

–          Ajarkan pada pasien dan keluarga tentang penggunaan O2 dirumah.

–          Kolaborasikan dengan keluarga untuk mengobservasi dan mengetahui tanda dan gejala dalam perubahan pada pernapasan dan melaporkan pada tim kesehatan.

2.      Bersihan jalan nafas tidak efektif

Pengertian.

Ketidakmampuan dalam membersihkan sekreso atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk menjaga bersihan jalan napas

Batasan karakteristik :

–          Dispnea

–          Penurunan suara napas

–          Orthopnea

–          Suara napas tambahan: rales, creakles, ronkhi, wheezing

–          Batik tidak efektif/ tidak dapat batuk

–          Produksi sputum

–          Sianosis

–          Kesulitan bicara

–          Perubahan ritme dan frekuensi pernapasan

–          Gelisah

Faktor yang berhubungan :

Lingkungan :

–          Asap

–          Asap rokok

–          Inhalaksi asap

–          Perokok pasif

Obstruksi jalan napas

–          Spasme jalan napas

–          Mucus banyak

–          Sekresi yang tertahan

–          Adanya jalan napas buatan

–          Benda asing di jalan napas

–          Sekresi di bronkus

–          Eksudat di alveoli

Fisiologi

–           Disfungsi neuromuscular

–          Hyperplasia dinding bronchial

–          Penyakit paru obstruksi kronik

–          Infeksi

–          Asma

–          Alergi

Tujuan : Klien mampu mencapai status respirasi normal dengan ventilasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama dilakukan tindakan keperawatanselama…..jam

Kriteria hasil

Indikator 1 2 3 4 5
–      Kecepatan pernafasan dalam batas normal

–      Irama pernafasan dalam batas normal

–      Tidak ada suara nafas tambahan.

–      Tidak menunjukkan adanya sesak nafas .

–      Orthopnea tidak ada

Keterangan:

1 : sangat sesuai harapan

2 : selalu sesuai harapan

3 :sering sesuai harapan

4 : kadang sesuai harapan

5 : tidak sesuai harapan

Intervensi:

Manajemen pernapasan

1.      Mengawasi tingkat irama kedalaman dan usaha dalam bernafas

2.      Mengawasi bunyi pernafasan

3.      Mengajarkan teknik relaksasi khusus

4.      Auskultasi  suara napas

5.      Berikan O .

3.      Nyeri akut yang berhubungan dengan agen injuri biologi

Tujuan: klien mampu mencapai level nyaman.

Indikator 1 2 3 4 5
–      Melaporkan kenyamanan fisik

–      Melaporkan puas terhadap kemampuan mengontrol diri/tanda dan gejala.

–      Melaporkan kenyamanan psikis.

–      Puas/nyaman terhadap lingkungan sekitar.

–      Puas/nyaman dan relahorship.

–      Puas terhadap kemandiriannya

–      Puas terhadap kemampuan mengontrol nyeri.

Keterangan:

1 : Tidak pernah mendemonstrasikan

2 : Jarang mendemonstrasikan

3 : Kadang-kadang mendemonstrasikan

4 : Sering mendemonstrasikan

5 : Selalu mendemonstrasikan

Intervensi:

    1. Analgesic administration

–          Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan derajat nyeri sebelum pemberian obat.

–          Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali.

–          Berikan analgesic tepat waktu terutama saat nyeri hebat.

–          Evaluasi efektivitas analgesic, tanda dan gejala (efek samping).

    1. Manajemen nyeri

–          Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, skala dan faktor pencetus.

–          Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi baik sebelum, saat atau setelah nyeri.

–          Laporan pada dokter bila penanganan nyeri yang diberikan kurang efektif.

–          Berikan obat analgetik yang optimal untuk mengurangi nyeri

–          Kolaborasikan dengan orang yang berarti dengan pasien, tenga kesehatan lain untuk menentukan tindakan manajemen nyeri non invasif.

    1. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit yang berhubungan dengan:

–          Kurangnya informasi

–          Kesalahan interpretasi informasi

–          Keterlambatan kognitif

Tujuan: Klien mampu mengetahui tentang proses penyakitnya.

Indikator 1 2 3 4 5
–      Mengetahui nama penyakit

–      Dapat menjelaskan proses penyakit

–      Dapat menjelaskan faktor resiko

–      Dapat menjelaskan akibat dari penyakit

–      Dapat menyebutkan tanda dan gejala

–      Dapat menyebutkan komplikasi penyakit

Keterangan:

1 : Tidak bisa melakukan

2 : Jarang bisa melakukan

3 : Kadang bisa melakukan

4 : Sering bisa melakukan

5 : Selalu dapat melakukan

Intervensi:

1.      Ajarkan: proses penyakit

–          Mendeskripsikan tanda dan gejala penyakit

–          Jelaskan proses penyakit

–          Identifikasi penyebab

–          Intruksikan kepada klien untuk melaporkan tanda dan gejala.

–          Diskusikan tentang terapi.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marllyn E. Rencana Asuhan Keperawatan, 2000.

Isselbacher, et.al. Harison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit dalam, Edisi 13. Jakarta: EGC. 2000.

Mansjoer, Arif ed.et.all, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1. Edisi 3. EMdia Aesculapius, FKUI: 2001.

Nanda  Nursing Diagnoses Definitions and Clasification, Philadelphia. 2002.

Nettina, Barbara M. Pedoman Praktik Keperawatan Alih Bahasa. Setiawan Sari, Monica Ester, Jakarta: EGC. 2002.

Schwartz, Saymour I, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Jakarta: EGC. 2000.

Smeltzer, Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC. 2000.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: