jump to navigation

TENTANG HATI 26 Oktober 2011

Posted by indokeperawatan in Night Fall BAB 1.
trackback

Terkadang aku tidak  bisa merelakan kisah cintaku tuk tergantikan,

Terkadang pula aku tak bisa tega, dia dalam  kesendirian..

……………………………………………………………..

Senjaku, ku sayang..

Wajahmu indah hari ini

Sinarmu berkilauan..rindu,,

Sungguh..

Pesona,,,

 

Senja..

Beberapa jam yang lalu, kita sempat berbincang-bincang “tentang hati”

 

(Awalnya aku hanya membuka catatanku saja.)

 

S:      “ Kenapa dirimu ..?”

 

(langsung ku gegabah dengan pertanyaannya)

 

A:     “ha..? aku tidak apa-apa kok..

“Aku sedang menulis tentangmu.”

S:      (kedua kalinya senja bertanya lagi)

“ kenapa lagi dirimu itu?”

“ matamu sendu, kau tak bisa  bohongi aku “

 

A:      “ apa sih!”

“Ok ok, aku sedang memikirkan sesuatu.”

 

S:      “sesuatu?”

“apa itu?

“ pentingkah sesuatu itu untuk mu fikirkan?”

(berhenti aku sejenak memenadang sinar jingganya)

 

A:      “aku rasa sesuatu itu penting, terbukti kau mengerti saat aku tengah memikirkanya”

 

S:      “jika kita slalu berharap baik, mungkin kebaikan itu akan bersama kita”

 

A:      “yah begitulah, kau benar lagi”

“ahh sudahlah …kita berbicara tentang yang lain saja..”

 

S:      “ kalau menurutmu, lebih baik diungkapkan , ya ungkapkan .kalau itu lebik baik, akan tetapi kau lihat, antara keadaan fikir dan keadaan hatimu..”

 

A:      “kau bisa saja senja.. tahukah kau yang ku rasa?”

“kok kali ini sasaranmu tepat mengenai targetmu..hihihi”

 

S:      “seandainya aku tidak punya hati, mungkin aku tidak tau rasamu saat ini..”

 

 

(Ku bergerak mundur, beranjak dari tempat ku menulis untuk mengalihkan arahku lebih dekat dengan senja..

Hemmmm tapi masih jauh…………)

 

 

A:      “hemm, iya dirimu benar lagi, senja..

“apakah aku ini terlalu cerobohdan terlalu tergesa-gesa?”

 

S:      “engkau dinda yang ku sayang teruslah berharap , bahwa aku kan menjadi bintang hati mu yang terindah…”

 

 

(terdengar, senja sedikit bernyanyi dengan nadanya)

 

 

A:      “hello….?”

“masihkah… kita….”

 

S:      “tentu, aku masih dengar kok…”

 

A:      “…………………..”

 

S:      “sempatkah kau ceritakan dengan hatimu sendiri?”

 

A:      “sedikit…”

 

S:      “……… ck..ck..ck..”

 

A:      “ terkadang hatiku berontak, jadi terpaksa aku bercerita dengan fikirku saja,lagi pula hanya itu itu saja..”

 

S:      “LUCU!”

 

A:      “lucu! Darimana kau ini?”

 

S:      “seandainya hati dan fikiran seseorang menjadi satu, mungkin seseorang takkan temui pilihan , terlebih lagi tak pernah bimbang..”

 

A:      “memang begitu kok, hatiku ini berontakan’

 

S:      “dirimu saja yang tidak bisa berkompromi dengan nya, coba saja lihat! Hatimu lebih memilih sendiri daripada mendengar keluhanmu..’

 

A:      “ kok begitu? Kau ini terlalu sok tahu “

 

S:      “ hey ,, sudah ketahuan, masih saja dirimu mengalihkan.. dasar!”

“ mesti difikir dan di renungkan sebelum terlambat”

 

A:      “berlari sajalah,, tidakkan terlambat kan?hihi”

 

S:      “terserahlah…

“ kau apakan hatimu itu!,buang saja lebihbaik daripada kau biarkan.”

 

(diam sejenak, memainkan pena dengan jemari kananku,,menarik nafas dalam dalam… huft..”)

 

A:      “ apalah arti sebuah cinta tanpa hati, apa pula cinta bersama hati?”

“aku slalu bingung menuruti hati, namun bingung juga kalau sudah begini..”

 

S:      “tergantung!’

 

A:      “ mati! Maksudmu”

 

S:      “ kau ini, masih saja.. guyon.. diam dulu..”

 

A:      “aku …lho… ok ok aku diam..

 

S:      “kau ingin mencintai dan dicintai dengan tulus , gunaka hatimu untuk merasakan apa yang kau alami dan apa pula yang harus kau jalani,,

Jika tanpa hati kau hanya bisa melihat tapi tidak merasakan..”

 

A:      “namun, terkadang aku tidak bisa merelakan semuanya jika aku bersama hati, dan tidak pula bisa melupakan jejak yang, jika aku tetap bersama hati..”

 

“salahkah aku senja..?”

 

“aku hanya ingin hatiku mengerti tentang keadaanku, serta terus bersamaku dan mengerti pula kebimbanganku tentang jalannya cintaku, yang kata orang kalu cinta mesti berkorban..”

 

 

S:      “kau harus ungkapkan pada hatimu dengan pelan-pelan hingga hatimu memahamimu,,”

 

A:      “bagaimana caranya? Dia sudah menyendiri tak bisa aku menganggunya.”

 

S:      “huh.. kau ini bagaimana..

Yang lebih dekat dengan hatimu kan dirimu sendiri kenapa kau Tanya ke aku, seharusnya kau tau dia bagaimana kalau sudah begini..”

 

A:      “ya,, tapi masalahnya,,, ini ,,,”

 

S:      “pantas saja hatimu pergi saat begini dirimu mengeluh, tapi saat bahagia kau tak hiraukan tegurannya agar dirimu tak tertipu kesemuan.”

 

A:      “kau ini kenapa ikut-ikutan naik darah, ada apa denganmu?”

 

(diam sejenak kita berdua saling memalingkan pandangan, senja sedikit melihat deburan ombak, sedangkan aku hanya merasakan angin sepoi-sepoi.)

 

S:      “ya sudahlah, coba kau temui dulu hatimu itu, kali saja dia akan mendengarkan penjelasanmu yang aneh iu..”

 

A:      “emang kau tahu penjelasanku, menjelaskan ke kamu saja belum..”

 

S:      “ lha tadi itu apa?”

 

A:      “ hussss… iya iya, kau ini makin naik saja darahmu itu…”

 

S:      “@_@”

 

A:      “senja…aku tahu yang kau maksud itu..

 

“aku hanya mementingkan fikiran egoku yang tidak kufikirkan hati yang menjaga naluriku..”

 

“ andai aku lebih mendengar tegurannya.. aku tidakkan serapuh ini,senja……”

 

S:      “kau memang ceroboh!”

 

A:      “iya..”

 

S:      “aneh ,benar kau ini,,”

 

A:      “aneh, bagaimana lagi?

 

“sudahlah jangan pojokin aku terus, tahu begini , aku tak ceritakan

tadi “tentang hati”. “

 

S:      “yang lalu biarkan berlalu,jika ada waktu untuk diperbaiki, ya perbaiki, namun jika sebaliknya mendingan kau jadikan itu kenangan yang tidak bisa kau ulang lagi, menurutku begitu..”

 

A:      “senja ku sayang.. I just need one ‘belief from heart to me’..”

 

“namun aku tahu itu, sulit memang…but  I must try one again just the    heart.”

 

S:      “ya memang kau harus begitu, itu akan lebih baik.’

 

A:      “jadi kangen aku……..”

 

S:      “aku ,tahu maksudmu..”

 

A:      “ hust,, diamlah kalau sudah tahu maksudku,, hmmmmm hampir selesai ini”

 

S:      “wah,, yu have finished to write about me..’

 

A:      “ iyalahhh”

 

(begitulah sharing yang sedikit menyebalkan dengan senja, yang “terlalu”)

 

 

Senjaku sayang..

 

Wangimu kian lekat dengan kelopak mataku,,

 

Hari ini kau kurangi sedikit beban fikirku..

 

Dan damaikan walaupun masih terfikirkan.

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: