jump to navigation

ASKEP OTITIS MEDIA 1 November 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

A.  Pengertian

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel smatoid.

Otitis media terbagi menjadi 2 yaitu :

1.   Otitis media superatif

  1. Otitis media superatif akut
  2. Otitis media superatif kronis

2.   Otitis media non superatif

a.   Otitis media serosa akut (basotrauma : eerotitis)

b.  Otitis media serosa kronis (glue ear)

(Soepardi, Arsyad, 1998)

Otitis media superatif kronika (OMSK) atau otitis media perforata (OMP) adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret (lebih…)

BAB HEMODIALISA 1 November 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

 

Proses dialisis dapat menyebabkan susah buang air besar (sembelit)?
Dalam istilah medis, buang air besar (BAB) dikatakan sulit apabila frekuensinya kurang dari 2X seminggu, disebut juga konstipasi. Penyebabnya dapat berasal dari berbagai keadaan misalnya diet kurang serat, obat-obatan, immobilisasi, abnormalitas struktur saluran cerna, sampai penyakit sistemik (umum) dan usia lanjut. Proses dialisisnya tidak secara langsung menjadi penyebab, tetapi mungkin penyakit gagal ginjal kroniknya yang telah mempengaruhi organ tubuh lain. Bisa juga disebabkan karena diet yang kurang sayur / buah, obat yang dikonsumsi seperti kalsium karbonat, disamping juga jumlah makanan yang dikonsumsi sendiri. Maka untuk mengatasinya cobalah berkonsultasi dengan ahli gizi tim kesehatan yang lain.

Mengapa Tekanan darah selalu tinggi setelah selesai HD?

Hal ini berkaitan dengan fungsi ginjal untuk mengatur tekanan darah, bila tekanan darah turun maka ginjal akan memproduksi renin yang selanjutnya menimbulkan reaksi atau usaha meningkatkan tekanan darah kembali agar kebutuhan tubuh ( yaitu oksigen) tetap terjaga. setelah sekiar jam (4 – 5 jam), cairan banyak keluar dan akibatnya tubuh merasa kekurangan cairan / darah, maka timbullah reaksi diatas. Hal lain yang mungkin terjadi karena saat dialisis, zat atau obat hipertensi ikut terbuang dalam proses dialisis,sehingga dalam hal ini perlu obat tambahan selama dialisis. Maka evaluasi kita sebagai tim kesehatan untuk mencari penyebab tersebut sangatlah penting dan pemberian terapi yang sesuai yang akan diberikan.

Menggigil saat HD, kenapa ya?
Saat proses HD berlangsung ,darah dikeluarkan dari tubuh, lalu masuk ke dalam mesin, kemudian masuk ke tubuh lagi. Ini menyebabkan tubuh berkontak dengan benda asing seperti pipa darah, partikel-partikel kecil bahkan yang sangat kecil dari bahan pembuat pipa dan air pencuci atau dialisat, serta bahan pembersih bila dialiser dipakai ulang. Dalam proses tersebut dapat terjadi sejenis reaksi alergi , yaitu penolakan terhadap benda asing oleh tubuh, sehingga timbulah keluhan menggigil tersebut. Tranfusi darah juga dapat menimbulkan reaksi yang serupa. Reaksi dapat juga timbul pada pemakaian dialiser pertama (baru), oleh karena itu perlu diperiksa faktor2 tersebut dan pemberian obat sesuai penyebabnya
Setelah hemodialisis, tulang bisa keropos, bagaimana cara menghindarinya?

Pada Gagal Ginjal Kronik (GGK) dengan fungsi ginjal kurang dari 30%, bisa mengakibatkan pengeluaran fosfat berkurang, sehingga menumpuk di tubuh penderita dan pembentukan hormon atau vitamin D yang aktif juga berkurang.Kekurangan vitamin D ini selanjutnya akan menyebabkan absorpsi/penyerapan kalsium dari usus berkurang, sehingga kadar ion kalsium di dalam darah juga akan berkurang dan pembentukan tulang (mineralisasi ) menjadi terganggu yang akan menyebabkan tulang menjadi rapuh.Selanjutnya penumpukan fosfat dan kadar kalsium darah yang menjadi rendah, dan akan merangsang kelenjar paratiroid mengeluarkan hormon paratiroidnya, yang akan memicu de-mineralisasi tulang (keluarnya/terkikisnya kalsium dari tulang) sehingga kalsium akan masuk kedalam darah yang kekurangan kalsium. Akibatnya tulang menjadi rapuh.

Berapa nilai Hb yang dianjurkan?

Untuk penderita GGK, diharapkan target Hb adalah antara 11-12 g/dl. Pemeriksaan Hb harus tetap dilakukan 1 bulan sekali, karena bagaimanapun juga kemampuan ginjal untuk menghasilkan hormon erythropoiein sudah berkurang maka harus selalu dimonitor nilainya. Untuk menjaga Hb tersebut, selain menggunakan hormon eritropoeitin (untuk maintenance atau menaikkan Hb), harus pula tetap mengkonsumsi vitamin yang mengandung Fe, asam folat dan B12.

 

PNEUMONIA 15 Maret 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

PENGERTIAN

Pneumonia adalah radang paru-paru yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam, seperti bakteri, virus, jamur, dan benda-benda asing.

 

KLASIFIKASI

Berdasarkan anatomiknya, pneumonia dibagi atas pneumonia lobaris, pneumonia lobularis (bronchopneumonia) dan pneumonia interstitial (bronchitis).

Berdasarkan etiologinya, dibagi atas;

  1. Bakteri
  • Pneumokok, merupakan penyebab utama pneumonia. Pada orang dewasa umumnya disebabkan oleh pneumokok serotipe 1 samapi dengan 8. Sedangkan pada anak-anak serotipe 14, 1, 6, dan 9. Inseiden meningkat pada usia lebih kecil 4 tahun dan menurun dengan meningkatnya umur.
  • Steptokokus, sering merupakan komplikasi dari penyakit virus lain, seperti morbili dan varisela atau komplikasi penyakit kuman lainnya seperti pertusis, pneumonia oleh pnemokokus.
  • Basil gram negatif seperti Hemiphilus influensa, Pneumokokus aureginosa, Tubberculosa.
  • Streptokokus, lebih banyak pada anak-anak dan bersifat progresif, resisten terhadap pengobatan dan sering menimbulkan komplikasi seperti; abses paru, empiema, tension pneumotoraks.

 

  1. Virus
  • Virus respiratory syncytial, virus influensa, virus adeno, virus sistomegalik.

 

  1. Aspirasi
  2. Pneumonia hipostatik
  • Penyakit ini disebabkan tidur terlentang terlalu lama.
  1. Jamur
  2. Sindroma Loeffler.

 

GEJALA KLINIK

Bronchopneumoni biasanya didahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik mendadak sampai 30 – 40 ° C.dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, sesak dan sianosis sekunder hidung dan mulut, pernapasan cuping hidung merupakan trias gejala patognomik. Kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk mula-mula kering kemudian jadi produktif.

 

PEMERIKSAAN FISIK

Pada stadium awal sukar dibuat diagnosa dengan pemeriksaan fisik. Tapi dengan adanya napas cepat dan dangkal, pernapasan cuping hidung, serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Harus dipikirkan kemungkinan pneumonia. Hasil pemeriksaan fisik tergantung dari pada luas daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi suara napas vesikuler dan lemah. Terdapat ronchi basah halus dan nyaring. Jika sering bronchopneumonia menjadi satu (confluens) mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara napas mengeras.

 

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Secara laboratorik ditemukan lekositosis, biasanya 15.000 – 40.000 / m3 dengan pergeseran ke kiri. LED meninggi. Pengambilan sekret secara broncoskopi dan fungsi paru-paru untuk preparat langsung; biakan dan test resistensi dapat menentukan / mencari etiologinya. Tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar. Pada punksi misalnya dapat terjadi salah tusuk dan memasukkan kuman dari luar. Foto rontgen dilakukan untuk melihat :

  • Komplikasi seperti empiema, atelektasis, perikarditis, pleuritis, dan OMA.
  • Luas daerah paru yang terkena.
  • Evaluasi pengobatan

Pada bronchopnemonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada salah satu atau beberapa lobur.

 

PENGOBATAN

  1. Bila dispnea berat berikan Oksigen
  2. IVFD ; cairan DG 10 % atau caiara 24 Kcl, Glukosa 10 % tetesan dibagi rata dalam 24 jam.
  3. Pengobatan: Penicilin Prokain 50.000 unit / kg BB / hari dan Kloramfenikol 75 mg / kg BB/ hari dibagi dalam 4 dosis.

 

PROGNOSIS

Dengan menggunakan antibiotika yang tepat dan cukup, mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1 %.

Asuhan keperawatan AIDS ( Acquired Immune Deficiency Virus Syndrome ) 27 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
add a comment

A. Pengertian

Dalam bahasa Indonesia, AIDS ( Acquired Immune Deficiency Virus Syndrome ) dapat  dialihkatakan sebagai sindrom cacat kekebalan tubuh dapatan.

Acquired   : didapat

Immune     : system kekebalan tubuh

Syndrome  : Kumpulan gejala penyakit

(lebih…)

Asuhan keperawatan Leukimia 26 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

A. Pengertian

Leukemia adalah proliferasi sel patologis dari sel pembuat darah uang bersifat sistemik ( IKA, FKUI, 1991 )

Leukemia adalah penyakit keganasan dari bone marrow dan sistem limfatik ( Wong 1995 )

  1. KLASIFIKASI

Berdasarkan morfologi , dibagi dalam 3 golongan besar sesuai dengan sistem hemopoetik sumsum tulang, yaitu :

  1. leukemia sistem eritropoetik ; miolisis eritemika atau penyakit di Guglielmo
  2. leukemia sistem granulotik ; leukemia granulositik atau myelositik
  3. leukemia sistem trombopoetik ; leukemia megakariositik
  4. leukemia sistem limfopoetik ; leukemia limfositik
  5. leikemia RES ; leukemia monositik , leukemia plasmositik ( penyakit kohler )

(lebih…)

Hepatitis B 24 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Infeksi virus hepatitis B yang oleh masyarakat awam dikenal sebagai ‘penyakit kuning’masih merupakan masalah kesehatan serius sampai saat ini. Infeksi yang terjadi dapat bersifat sementara (transient), yaitu pada hepatitis B akut. Ini terutama dijumpai pada penderita dewasa dengan kompetensi imunitas yang baik. Umumnya penderita hepatitis akut pada orang dewasa akan sembuh secara sempurna ( > 90%). Hanya sebagian kecil yang menetap (permanent) dan menjadi kronik (5 – 10%). (lebih…)

GANGGUAN KESADARAN 23 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

 

  1. PENDAHULUAN

Fungsi kesadaran menyangkut :

–   tingkat kesadaran

–   isi kesadaran

(lebih…)

DEMAM THYPOID 14 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Anak, Keperawatan Interna.
add a comment

A.    Definisi

Demam thypoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh salmonella parathypi A, salmonella parathypi B, salmonella parathypi C, parathypoid biasanya lebih ringan dengan gambaran klinis sama (Rachmad Yuwono, 1991).

(lebih…)

TUMOR GASTER (ASKEP) 14 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna, Keperawatan Medikal Bedah.
1 comment so far

Pengertian

Tumor gaster terdiri atas tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak dibagi atas tumor jinak epitel (benigna epithelial tumor) dan tumor jinak non epitel. Neoplasma jaringan ikat yang banyak ditemukan adalah tumor otot polos. Perangai tumor ini sulit diramalkan, dan sulit dibedakan antara tumor ganas dan jinak berdasarkan kriteria histologis. Salah satu gambaran yang mengarah ke jinak ialah ukurannya yang kecil, berkapsul, aktivitas mitolik yang rendah dan tidak ditemukan nekrosis (Underwood, 2000 : 439). Sedangkan menurut Sjamsuhidayat (2005 : 555) tumor jinak yang tersering ditemukan adalah polip dan leiomioma yang dapat membentuk adenomatosa hiperplastik, atau fibroid. Leiomioma yang merupakan tumor jinak otot polos lambung tidak bersimpai sehingga sulit dibedakan dari bentuk yang ganas (leiomiosarkoma) gambaran klinis dapat terjadi pada semua kelompok umur dan umumnya tumor ini tidak memberikan gejala klinis, kalaupun ada hanya berupa nyeri yang tidak sembuh dengan antasid. Pemeriksaan fisik tidak menemukan sesuatu kelainan, bila ditemukan kelainan perlu dipikirkan adanya karsinoma.

(lebih…)

EFUSI PLEURA 14 Februari 2011

Posted by indokeperawatan in Keperawatan Interna.
add a comment

A. Pengertian

1.      Efusi pleura adalah penumpukan cairan rongga pleura (seymour I Schwartz, 2000).

2.      Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleural (Arif Mansjoer, ed. 1999).

3.      Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal. (Suzanne C Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2002).

(lebih…)